Sunday, September 29, 2013

CAPTER II (SERIBU RUPIAH UNTUK CELENGAN BARU)

Tiga pohon pinang lagi maka aku harap pagar tinggi itu telah dibuka empunya, pohonnya memang sudah cukup tinggi bahkan sudah sama dengan puluahan pohon mahoni tua di bagian kanan jalan. Aku perkirakan umur pinang-pinang itu lebih dari lima tahun. Jika matahari mulai tegak lurus dikepala pengguna jalan ini, maka mereka akan menggelepar kepanasan saat berjalan pelan seperti yang aku lakukan sekarang ini, jelas saja karena sisi ini tidak lagi kebagian bayangan dari pohon pinang.
Belum ada lalu lalang kendaraan yang berarti dari tadi, tidak begitu jauh berjalan, aku mendengar suara reot-reot besi tua semakin mendekat. Ketika mengalami pembesaran frekuensi gelombangnya, bunyinya semakin keras, ragu-ragu aku membalikkan badan.
“Tylaaaaaaaaaaaa” teriak Ikhlas. Ya.. Tiga tahun aku satu kelas dengan Ikhlas, dan Dua tahun keluargaku mengenal Ibunya, tapi baru kali ini aku melihat sosok laki-laki kurus, tinggi, dengan kulit gelap dan telah keriput. Mulutnya ksedikit bergetar, jakunnya pun naik turun.  Aku yakin itu sosok kakek  yang sering diceritakan Ikhlas padaku.
Alas kaki yang dikenakan kakeknya terbuat dari kulit asli. Sejak sebelum Iklas lahir sepatu itu terus menemaninya, setiap rusak dijahit dan setiap bolong ditambalnya. Kata Ikhlas itu kado dari sang nenek setelah cincin pernikahan mereka terpaksa digadaikan untuk membayar hutang rumah mereka. Sayang sekali rumah itu sekarang hanya tersisa satu kamar, satu dapur dan kamar mandinya saja karena sebagian tanah sudah mereka sumbangkan untuk masjid di samping rumah mereka.
“Sini aja, Kek” kata Ikhlas sambil menepuk sebelah tangan kakeknya. Si kakek tersenyum padaku, tepat seperti pejabat tahun 50-an memberikan sapa pada rakyatnya dengan kaca mata besar dan gigi rapat, tentu gigi palsunya. Aku sering lihat di televisi begitu saat momen tujuh belasan. Tentu aku balas dengan senyum juga. Tak lama, Ikhlas sudah berpamitan sang kakek yang ternyata adalah seorang tukang jam keliling terkenal dizaman 70-an.
“Tyla, itu kakek” katanya, aku mengangguk. Tak lama Ikhlas bersuara lagi.
“Eh.. Ini belum jam enam, tumben udah ke sekolah, Tyl?”
“Iya, Papa ke bandara” jawabku.
“Mau ke negara seperti di kalender rumahku lagi, Tyl?” tanyanya meneliti.
“Hahaha, namanya Canada” teriakku.
Bagiku lucu sekali saat dia menceritakan gambar-gambar atas kalendernya tiap tahun. Temanya terkesan berkeliling dunia, terdiri dari empat lembar masing bergambar foto kota-kota besar di dunia, dan bagian bawahnya terdapat tanggal-tanggal yang dipenggal sebanyak 3 bulan. Baginya, itu adalah kota sungguhan dan bahkan motivasinya untuk selalu belajar Ilmu Pengetahuan sosial.
Ikhlas bercerita bahwa kalender itu hadiah dari pelanggan kakeknya yang bekerja sebagai tukang potong kertas di salah satu percetakan buku cerita-cerita rakyat. Mendengar pelanggan untuk jasa perbaikan jam saja aku sudah menahan tawa. Kata Ikhlas pemuda itu tidak punya kebiasaan mengonta-ganti jam, hanya saja demi kekasihnya di Arab Saudi sana, ia selalu memastikan jam tangannya tidak rusak saat terkena hujan atau tersenggol mesin pemotong. Maklumlah, itu hadiah dari calon istrinya yang akan dinikahinya 5 tahun mendatang.
            “Setia sekali” bisikku sendiri
            “Apa?” ikhlas memandangiku.
            “Mereka, kakekmu dan cerita tentang pemuda itu jawabku.” Jelasku.
            “Kamu belum tau yang super setia, Tyl.
“Siapa?” desakku
“Ikut dulu mengaji denganku. Hahaha..” Ikhlas terbahak-bahak.
            “Aku sih mau aja, asal kamu dan kakekmu ikut ibumu tinggal dirumahku” kataku.
            “Tidak ada istilah barter soal ini, Tyla. Kakek bisa mati saat berpisah dengan rumahnya. Dan aku adalah cucu kakek. Soal mengaji itu untukmu” jelasnya, meskipun aku sangat bingung dengan penggalan kalimatnya, aku hanya mengangguk memastikan ia tidak mengoceh lebih banyak lagi. “Ah... Siapa yang kau katakan paling setia itu, Bujang” tanyaku dalam hati.
            “Kau tau jawaban Ayah kan Ikhlas?” keluhku
            “Sudahlah, ada titipan dari Ibuku?” hardiknya sembari menengadahkan tngan kanannya.
           “Jangan lupa persenanku ya” candaku balik padanya seraya memberikan uang seribu rupiah padanya.
            “Ambillah” katanya.
            “Apa?” aku kaget bukan main.
      “Belikan aku celengan dengan uangku. Kata orang belanja digedung-gedung bertingkat lebih murah yang jualan sudah kaya” jelasnya.
       “Hahaha, itu namanya diskon, ada yang promo, juga ada obral, semua sama mengistimewakan planggan dan tentu mereka punya kepentingan.” Aku menjelaskan sedikit tentang apa yang aku tau.

      “Ya, belikan aku itu, lalu cukup beri aku belanja senin dan jumat, dan sisanya kamu masukin ke celengan ya. Tenang Tyla, kita akan bagi hasil.” Terangnya, kali ini bocah inimenatapku Aku mengangguk setuju. 

CAPTER I (BOCAH TEPI KALI)

Tidak jauh jembatan itu akan ada pertigaan pertama di sebelah kiri jalan, jalannya hanya selebar dua meter mungkin dan berbatu krikil. Ada lebih dari dua ratus kepala keluarga  yang memilih hidup di perkampungan yang luasnya tidak lebih dari dua hetar itu.
Jika langit mulai menjadi abu-abu tua, ibu – ibu mulai berteriak pada anak-anak gadis mereka untuk membereskan perkekas di halaman rumah dan jemuran yang belum kering, bahkan sampai pekak telinga sang kepala dusun saat hampir semua warga minta kapan mereka bebas dari banjir bulanan. Lain lagi jika adzan berkumandang, tidak ada gaduh sedikitpun kecuali suara semak yang dilewati kadal – kadal coklat tua ditepi masjid. Bocah-bocah muslim kapung tak ubahnya itik pulang ke kandangnya saat mereka selesai mengaji. Kwek ... Kwek ... Apalagi kalau bukan sendok nasi dalam kepala mereka.
Aku pernah mendapat cerita konyol dari Ikhlas, tentang Niko sahabatnya yang bermata sipit, dan merupakan keturunan Cina. Namun sayang sekali, kulitnya telah gelap  dan hanya bagian tertentu saja terang seperi bagian yang tertutup tali singgletnya. Keluarga Niko sangat taat pada agama, berkali-kali Niko memintan Ikhlas menunggu di teras greja kota sebelum mereka mencari cacing untuk umpan pancingan. Belumlah lama rasanya Niko masuk greja ia sudah menarik tangan Ikhlas dan mengajak Ikhlas berlari ke tepi kali pinggir desa. Sudah barang pasti Ibu Niko marah dan langsung terbirit –birit langkahnya mengejar Niko.
“Kembali Kau, Niko. Atau Ibu tak bukakan pintu nanti sore”, teriaknya di depan greja. Kali ini ia tak peduli akan pengunjung greja yang melihat ke arahnya.
“Tenag, lima ekor ikan untuk Ibu” balas niko tanpa menoleh lagi. Ada yang menertawakan, lucunya Ayah Niko hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu beranak itu. Bagaimanapun kisah-kisah tentang orang tua sudahlah lebih dari cerita peri-perian gadis-gedis kecil, saat Niko pulang akan ada hadiah menarik yaitu sepiring nasi lengkap dengan lauknya, ceramah agama dari ayahnya, dan tumpukan botol-botol yang harus dipilahnya dalam karung-karung hasil pulungan Ayahnya. Kepala Niko telah tertunduk hari itu. 

Tuesday, June 18, 2013

Uji Tollens untuk Aldehid dan Keton

Silahkan Dimanfaatkan teman-teman Laporan Praktikum Kimia Organik (Kimia Dasar II) UJI TOLLENS UNTUK ALDEHID DAN KETON. Silahkan dijadikan rujukan untuk Ilmu Pengetahuan teman-teman. Mempermudah bukan berarti Ctrl+A Ctrl+C Ctrl+V ya .. :) Thanks for visiting my blog. Getting as much as you need. Download secara GRATIS Jangan lupa comment ya uantuk perbaikan blog ini kedepannya. I hope you enjoy to visit my blog.

REAKSI ESTERIFIKASI

Silahkan Dimanfaatkan teman-teman laporan praktikum kimia organik (kimia dasar II), REAKSI ESTERIFIKASI. Silahkan dijadikan rujukan untuk Ilmu Pengetahuan teman-teman. Mempermudah bukan berarti Ctrl+A Ctrl+C Ctrl+V ya .. :) Thanks for visiting my blog. I hope you enjoy it. Getting as much as you need. Download secara GRATIS Jangan lupa comment ya untuk perbaikan blog ini kedepannya.

UJI BAEYER UNTUK SENYAWA RANGKAP DUA DAN RANGKAP TIGA

Silahkan Dimanfaatkan teman-teman Laporak Kimia Organik (Kimia Dasar II) - UJI BAEYER UNTUK SENYAWA RANGKAP DUA DAN RANGKAP TIGA -. Silahkan dijadikan rujukan untuk Ilmu Pengetahuan teman-teman. Mempermudah bukan berarti Ctrl+A Ctrl+C Ctrl+V ya .. :) Thanks for visiting my blog, I hope you enjoy it. Getting as much as I can give. Download secara GRATIS Jangan lupa comment ya uantuk perbaikan blog ini kedepannya.

Laprak Kimor, 2. Uji Baeyer Untuk Senyawa Rangkap Dua Dan Rangkap Tiga by A1M012019 by YuliAKhoiruddin

UJI SIFAT ASAM DAN BASA SENYAWA ORGANIK

Silahkan Dimanfaatkan teman-teman Laporan Praktikum Kimia Dasar II (kimia organik) - UJI SIFAT ASAM DAN BASA SENYAWA ORGANIK - . Silahkan dijadikan rujukan untuk Ilmu Pengetahuan teman-teman. Mempermudah bukan berarti Ctrl+A Ctrl+C Ctrl+V ya .. :) Thanks for visiting my blog. Getting as much as I can give. Download secara GRATIS Jangan lupa comment ya untuk perbaikan blog ini kedepannya.

Tuesday, June 11, 2013

COKELAT (Theobroma cacao) SEBAGAI BAHAN PENYEGAR

Silahkan Dimanfaatkan teman-teman COKELAT (Theobroma cacao) SEBAGAI BAHAN PENYEGAR untuk memenuhi tugas makalah Pengetahuan Bahan Pangan. Silahkan dijadikan rujukan untuk Ilmu Pengetahuan teman-teman. Mempermudah bukan berarti Ctrl+A Ctrl+C Ctrl+V ya .. :) Thanks for visiting my blog. Getting as much as I can give. Download secara GRATIS Jangan lupa comment ya uantuk perbaikan blog ini kedepannya

Makalah Cokelat (Theobroma cacao) sebagai Bahan Penyegar - Universitas Jenderal Soedirman - by YuliAKhoiruddin

GRANULA PATI - PENGETAHUAN BAHAN PANGAN

Silahkan Dimanfaatkan teman-teman MAKALAH GRANULA PATI PADA BAHAN PANGAN, makalah ini saya tulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengetahuan Bahan Pangan. Silahkan dijadikan rujukan untuk Ilmu Pengetahuan teman-teman. Mempermudah bukan berarti Ctrl+A Ctrl+C Ctrl+V ya .. :) Thanks for visiting my blog. Getting as much as I can give. Jangan lupa tinggalkan comment untuk perbaikan kedepannya

Granula Pati - Yuli A Khoiruddin - A1m012019 by YuliAKhoiruddin

LAPORANPRAKTIKUM NIRA

Silahkan Dimanfaatkan teman-teman. LAPORAN PRAKTIKUM NIRA, pada praktikum mata kuliah Pengetahuan bahan Pangan. Silahkan dijadikan rujukan untuk Ilmu Pengetahuan teman-teman. Mempermudah bukan berarti Ctrl+A Ctrl+C Ctrl+V ya .. :) Thanks for visiting my blog. Getting as much as I can give. Silahkan download dokumen secara gratis :) http://www.scribd.com/doc/147058366/Lapran-Praktikum-Nira Jangan lupa tinggalkan comment untuk perbaikan kedepannya

Lapran Praktikum Nira by YuliAKhoiruddin

LAPORAN PRAKTIKUM TELUR

Silahkan Dimanfaatkan teman-teman. Laporan Praktikum TELUR, pada praktikum mata kuliah PENGETAHUAN BAHAN PANGAN.Silahkan dijadikan rujukan untuk Ilmu Pengetahuan teman-teman. Mempermudah bukan berarti Ctrl+A Ctrl+C Ctrl+V ya .. :) Thanks for visiting my blog. Getting as much as I can give. Silahkan kunjungi http://www.scribd.com/doc/147055997/LAPPORAN-PRAKTIKUM-TELUR Download secara GRATIS Jangan lupa comment ya untuk perbaikan blog ini kedepannya

Sunday, May 26, 2013

Ya Allah, Aku Mohon Sembuhkan Papa


Untuk Papa
Masih lekat dingatan ku, Pa..
Dulu, dulu sekali. Papa bilang untuk tidak mempertontonkan kesedihanku, masalahku pada orang lain, cukup aku dan Allah yang tau. Karena menurutmu itu sebenarnya sebuah ketegaran.
Maaf, hari ini aku ingin menuliskannya, Pa. Mungkin tidak ada satupun yang dapat mewakili apa yang aku rasakan saat toots-toots keyboard ini aku tekan. Karena jauh di dalam sini aku sangat ingin kesembuhan Papa. Aku ingin Papa mengelar cerita apapun dengan jelas, aku ingin Papa bisa mengendarai motor lagi, aku ingin namaku disebut tanpa ada yang lupa, aku ingin Papa sembuh dan bisa menyediakan paha Papa untuk aku tiduri saat diperjalanan pulang ke rumah. Aku rindu Papa benar-benar-benar rindu Papa.
Papa, ia mungkin tidak sesempurna kisah – kisah Luqman, tapi ia adalah manusia yang membuat aku menangis berhari-hari , karena begitu banyak yang ia berikan tapi sedikitpun belum bisa aku balas. Bahkan saat Papa terbaring sakit, sedikitpun belum tersentuh tanganku padahal dari kecil dialah yang membimbing tanganku. Egois sekali anakmu ini Pa, jaminan apa yang tersaji di depan sampai relanya aku bertahan disini. Aku rindu rumah, rindu kita bersama di meja makan.
Dari sekian banyak momen masa kecilku dengan Papa, aku sangat ingat saat Papa dayung sepeda unguku(kelas  4 SD), sementara aku duduk di belakang. Saat itu Papa akan berangkat ke Padang, sederhana sekali sore itu, aku mengantar Papa dengan sepeda ke Pakan Sinayan (2 km dari rumahku). Aku ingat wanti-wantinya untuk hati-hati pulang.
Pa, hari itu di Bukittinggi, Aku aturkan maaf hari ini karena udiknya aku belum sempat aku katakan. Sungguh tidak bermaksud aku tidak mencium tanganmu saat mengantarkanku ke kos. Besar rasa bersalahku, saat belum penuh matahari muncul, aku sudah diantarkan dengan motor ke Bukittinggi dari payakumbuh, tetapi sampai di kos, aku hanya masuk tanpa salam terlebih dulu.
Adakah kau benar-benar sedih saat itu Pa? apa aku terlihat begitu angkuh? Sungguh aku menangis sejadinya hari itu, Pa. Saat itu aku masuk dan berniat menerima tawaran Papa untuk diantar ke tempat bimbel, tapi saat aku keluar rumah tidak ada siapa-siapa lagi. Papa pulang, dan aku belum mencium tanganmu. Aku merasa durhaka hari itu, sampai-sampai di waktu pulangku di angkot, aku habiskan dengan menangis.
Pa, aku masih berharap Papa menjemputku di bandara esok, aku sangat berharap untuk Juli esok, Pa. Januari lalu, Papa bilang, untuk tidak melarangmu menjalankan fungsimu sebagai orang tua selagi kondisimu masih sehat. Dan benar saja, aku nyaman tertidur di pahamu saat itu. Aku terhayak mengingatnya. Kalau kepulanganku Januari lalu ke Sumbar untuk mengajak keluarga kita jalan-jalan seperti dulu, sekarang tidak lagi Pa, aku ingin benar-benar menemanimu latihan jalan, membantumu latihan berbicara (insyaAllah).
 Tidak ada yang mengerti tentang kesempurnaan selain Sang Pencipta, bahkan Papa dan Aku pun tidak. Allah, izinkan Papa sembuh, aku mohonkan ampun atas dosa beliau, Jagakan beliau untuk kami, sehatkan Papa. Aku mohon. Sehatkan beliau.
Allah, beri aku kesempatan pulang, beri aku kesempatan memeluk Papa, beri aku kesempatan memperbaiki begitu banyak dosaku padanya. Aku tidak ingin Papa meringis kesakitan, tapi tidak satupun anaknya disampingnya.

Pa, anakmu menangis,
Aku bukan tak tegar,
Aku mengis karena aku rindu,
Benar-benar rindu Papa.
Allah,
Izinkan aku pulang
Izinkan aku berkumpul dengan keluargaku
Aamiin



Wednesday, May 8, 2013

Silahkan Dimanfaatkan teman-teman. Silahkan dijadikan rujukan untuk Ilmu Pengetahuan teman-teman. Mempermudah bukan berarti Ctrl+A Ctrl+C Ctrl+V ya .. :) Thanks for visiting my blog. Getting as much as I can give.

Yuli a Khoiruddin - Pengeja Jendela Pikir - A1m012019 by YuliAKhoiruddin

Saturday, March 23, 2013

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BIDANG PERTANIAN DAN PANGAN

Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Bidang Pertanian
E-Agriculture
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah meliputi berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk bidang pertanian. Penetrasi TIK di bidang pertanian ini sering disebut dengan istilah electronic Agriculture yang disingkat e-Agriculture. FAO mengusulkan defenisi e-Agriculture sebagai berikut :
“e-Agriculture” is an emerging field in the intersection of agricultural informatics, agricultural development and entrepreneurship, referring to agricultural services, technology dissemination, and information delivered or enhanced through the Internet and related technologies. More specifically, it involves the conceptualization, design, development, evaluation and application of new (innovative) ways to use existing or emerging information and communication technologies (ICTs).
Pada dasarnya e-Agriculture adalah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam bidang pertanian. Pemanfaatan ini dapat dilakukan di semua aktivitas pertanian, mulai dari proses produksi sampai pada pemasaran hasilnya. Pemanfaatan TIK dapat meliputi berbagai aspek, baik itu perangkat telekomunikasi, komputer ataupun perangkat lunaknya. Tentunya dengan e-Agriculture ini diharapkan TIK dapat dijadikan sebagai alat untuk membantu mengatasi berbagai kendala yang ada. Beberapa negara telah memiliki cerita sukses tentang e-Agriculture ini salah satunya India dengan e-Choupalnya, Demikian pula Jepang dan Korea yang telah memanfaatkan e-Agriculture. Di Indonesia, pemerintah berupaya untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai instrumen akselerasi pembangunan pertanian. Dalam Rencana Strategik (RENSTRA) Departemen Pertanian, 2005-2009, telah dicanangkan kebijakan operasional program TIK, yaitu: (i). Pengembangan dan Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Statistik Pertanian, (ii). Peningkatan Pemanfaatan dan Penyebaran Informasi, (iii). Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia dalam Bidang Statistik dan Sistem Informasi, dan (iv). Pengembangan dan Penataan Kelembagaan Sistem Informasi. Di Indonesia terdapat pula organisasi yang berfokus pada pemanfaatan TIK di bidang pertanian yaitu Himpunan Informatika Pertanian Indonesia (HIPI). Di bawah ini beberapa contoh riset dan pengalaman pemanfaatan TIK di bidang pertanian:
  1. Untuk mendukung perekaman jurnal kegiatan pertanian, Kouno dkk, telah mengembangkan sebuah sistem yang mengkombinasikan web camera dan sebuah robot metrologi. Web camera ini secara otomatis mengumpulkan foto-foto tanaman yang digunakan untuk menganalisa secara jarak jauh (remote) kondisi dan perkembangan tanaman.
  2. Sugawara, mengembangkan sebuah jurnal kegiatan pertanian berbasis mobile-phone untuk mengumpulkan data pertanian
  3. Otuka dan Yamakawa mengembangkan sistem berbasis PDA yang dikombinasikan dengan Global Positioning System (GPS) untuk mengumpulkan data pertanian dan lokasinya
  4. Fukatsu dkk mengembangkan sistem untuk memonitoring sebuah area pertanian, sistem ini diberi nama Field Server. Sistem ini memiliki sejumlah sensor untuk memantau suhu, kelembaban, sinar matahari, kondisi tanah. Serta memiliki fitur untuk terhubung ke jaringan Internet.
  5. Seorang petani jepang yang melengkapi greenhouse-nya dengan sistem web camera yang semula ditujukan untuk memantau kondisi dan perkembangan tanamannya, tetapi kemudian sistem ini digunakannya sebagai sistem untuk mempromosikan tanaman/buah2an yang ada di greenhouse-nya menggunakan web camera untuk memantau tanamannya dan mengubungkannya ke jaringan Internet, petani ini menjual tanamannya kepada pembeli dan memberikan kebebasan sang pembeli memantau perkembangan buah-buahan tersebut melalui web hingga siap dipanen.
Selain e-Agriculture, dalam bidang pertanian terdapat pula istilah electronic Agribusiness (e-Agribusiness) istilah ini mengacu pada kegiatan bisnis di pertanian (agribisnis) seperti pemasaran hasil-hasil pertanian yang memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi, salah satu contohnya pemanfaatan e-Commerce untuk bertransaksi hasil-hasil produksi di bidang pertanian.
Pemanfaatan TIK dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
Dalam mendukung kegiatan pembangunan pertanian berkelanjutan, TIK memiliki peranan yang sangat penting untuk mendukung tersedianya informasi pertanian yang relevan dan tepat waktu. Informasi pertanian merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam produksi dan tidak ada yang menyangkal bahwa informasi pertanian dapat mendorong ke arah pembangunan yang diharapkan. Informasi pertanian merupakan aplikasi pengetahuan yang terbaik yang akan mendorong dan menciptakan peluang untuk pembangunan dan pengurangan kemiskinan. Integrasi yang efektif antara TIK dalam sektor pertanian akan menuju pada pertanian berkelanjutan melalui penyiapan informai pertanian yang tepat waktu relevan, yang dapat memberikan informasi yang tepat kepada petani dalam proses pengambilan keputusan berusahatani untuk meningkatkan produktivitasnya. TIK dapat memperbaiki aksesibilitas petani dengan cepat terhadap informasi pasar, input produksi, tren konsumen, yang secara positif berdampak pada kualitas dan kuantitas produksi mereka. Informasi pemasaran, praktek pengelolaan ternak dan tanaman yang baru, penyakit dan hama tanaman/ternak, ketersediaan transportasi, informasi peluang pasar dan harga pasar input maupun output pertanian sangat penting untuk efisiensi produksi secara ekonomi (Maureen 2009).

Membangun sebuah masa depan elektronis (berwawasan TIK) yang berkelanjutan (sustainable e-future) memerlukan strategi dan program untuk menyiapkan petani dengan kompetensi TIK. Hal ini bermanfaat untuk mendukung perdagangan dan kewirausahaan, sehingga pemerintah dapat meningkatkan kapasitas petani untuk berperan serta dan bermanfaat bagi tiap pertumbuhan ekonomi. Dengan mengintegrasikan TIK dalam pembangunan pertanian berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas petani, maka petani akan berfikir dengan cara yang berbeda, berkomunikasi secara berbeda, dan mengerjakan bisnisnya secara berbeda.

Istilah pembangunan berkelanjutan pertama kali muncul pada tahun 1980 dalam World Conservation Strategy dari the International Union for the Conservation of Nature (IUCN), lalu pada tahun 1981 dipakai oleh Lester R. Brown dalam buku Building a Sustainable Society (Keraf 2002). Istilah tersebut kemudian menjadi sangat populer ketika pada tahun 1987 World Commision on Environment and Development atau dikenal sebagai Brundtland Commision menerbitkan buku berjudul Our Common Future (Fauzi 2004). Tahun 1992 merupakan puncak dari proses politik yang akhirnya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, paradigma pembangunan berkelanjutan diterima sebagai sebuah agenda politik pembangunan untuk semua negara di dunia (Keraf 2002).

Konsep berkelanjutan merupakan konsep yang sederhana namun kompleks, sehingga pengertian keberlanjutan pun sangat multi-dimensi dan multi-interpretasi. Karena adanya multi-dimensi dan multi-interpretasi ini, para ahli sepakat untuk sementara mengadopsi pengertian yang telah disepakati oleh Komisi Brundtland yang menyatakan bahwa “pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka” (Fauzi 2004). Konsep keberlanjutan ini paling tidak mengandung dua dimensi, yaitu dimensi waktu karena keberlanjutan tidak lain menyangkut apa yang akan terjadi di masa mendatang, dan dimensi interaksi antara sistem ekonomi dan sistem sumber daya alam dan lingkungan (Heal 1998 dalam Fauzi 2004).

Pezzey melihat aspek keberlanjutan dari sisi yang berbeda. Keberlanjutan memiliki pengertian statik dan dinamik. Keberlanjutan statik diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya alam terbarukan dengan laju teknologi yang konstan, sementara keberlanjutan dinamik diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat teknologi yang terus berubah. Adapun Haris melihat bahwa konsep keberlanjutan dapat diperinci menjadi tiga aspek pemahaman (Fauzi 2004), yaitu:
1. Keberlanjutan ekonomi, yang diartikan sebagai pembangunan yang mampu menghasilkan barang dan jasa secara kontinu untuk memelihara keberlanjutan pemerintahan dan menghindari terjadinya ketidakseimbangan sektoral yang dapat merusak produksi pertanian dan industri.
2. Keberlanjutan lingkungan: Sistem yang berkelanjutan secara lingkungan harus mampu memelihara sumber daya yang stabil, menghindari eksploitasi sumber daya alam dan fungsi penyerapan lingkungan. Konsep ini juga menyangkut pemeliharaan keanekaragaman hayati, stabilitas ruang udara dan fungsi ekosistem lainnya yang tidak termasuk kategori sumber-sumber ekonomi.
3. Keberlanjutan sosial: Keberlanjutan secara sosial diartikan sebagai sistem yang mampu mencapai kesetaraan, menyediakan layanan sosial termasuk kesehatan, pendidikan, gender dan akuntabilitas politik.

Menurut Munasinghe (1993), pembangunan berkelanjutan mempunyai tiga tujuan utama, yaitu: tujuan ekonomi (economic objective), tujuan ekologi (ecological objective) dan tujuan sosial (social objective). Tujuan ekonomi terkait dengan masalah efisiensi (efficiency) dan pertumbuhan (growth); tujuan ekologi terkait dengan masalah konservasi sumber daya alam (natural resources conservation); dan tujuan sosial terkait dengan masalah pengurangan kemiskinan (poverty) dan pemerataan (equity). Dengan demikian, tujuan pembangunan berkelanjutan pada dasarnya terletak pada adanya harmonisasi antara tujuan ekonomi, tujuan ekologi dan tujuan sosial.

Menurut Technical Advisorry Committee of the CGIAR (TAC-CGIAR 1988), “pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam” (pengelola usaha tani yang memiliki tingkat keberdayaan berkelanjutan). Diharapkan pertanian yang berkelanjutan akan menghasilkan pula petani yang berdaya secara berkelanjutan pula.
Ciri-ciri pertanian berkelanjutan adalah sebagai berikut:
1. Mantap secara ekologis, yang berarti kualitas sumber daya alam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan–dari manusia, tanaman, dan hewan sampai organisme tanah ditingkatkan. Dua hal ini akan terpenuhi jika tanah dikelola serta kesehatan tanaman dan hewan serta masyarakat dipertahankan melalui proses biologis (regulasi sendiri). Sumber daya lokal digunakan secara ramah dan yang dapat diperbaharui.
2. Dapat berlanjut secara ekonomis, yang berarti petani mendapat penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, sesuai dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan dan dapat melestarikan sumber daya alam dan meminimalisasikan risiko.
3. Adil, yang berarti sumber daya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa sehingga keperluan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi dan begitu juga hak mereka dalam penggunaan lahan dan modal yang memadai dan bantuan teknis terjamin. Masyarakat berkesempatan untuk berperanserta dalam pengambilan keputusan di lapangan dan di masyarakat.
4. Manusiawi, yang berarti bahwa martabat dasar semua makhluk hidup (manusia, tanaman, hewan) dihargai dan menggabungkan nilai kemanusiaan yang mendasar (kepercayaan, kejujuran, harga diri, kerjasama, rasa sayang) dan termasuk menjaga dan memelihara integritas budaya dan spiritual masyarakat.
5. Luwes, yang berarti masyarakat desa memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usahatani yang berlangsung terus, misalnya, populasi yang bertambah, kebijakan dan permintaan pasar.

Dalam “World Summit on the Information Society five years on: Information and communications Technology for Inclusive Development” (ESCAP 2008) dinyatakan bahwa wilayah Asia-Pacific menghadapi berbagai tantangan dalam menghadapi target tujuan pembangunan pada millennium pertama (antara tahun 1990 dan 2015), sejumlah penduduk menderita karena kelaparan. Keberlanjutan pertanian dan keamanan pangan terancam oleh rendahnya hasil pertanian, miskinnya pengelolaan sumber daya tanah dan air, serta pendidikan tenaga kerja bidang pertanian yang berada di bawah standar. Kondisi penduduk tersebut juga sangat rentan terhadap bencana, seperti keringan, banjir, gempa bumi dan tanah longsor. Teknologi informasi dan komunikasi dapat diterapkan dalam mendukung manajemen sumber daya, pemasaran, penyuluhan dan mengurangi resiko kehancuran untuk membantu negara-negara meningkatkan produksi pangan dan mengurangi ancaman terhadap ketahanan pangan.

Berdasarkan penelitian Wahid (2006) terhadap pemanfaatan kafe internet, faktanya diketahui bahwa penggunaan internet (aplikasi teknologi informasi) cenderung dimanfaatkan khususnya untuk meningkatkan kapabilitas pendidikan secara personal dan pengalaman internet, sekolahan di Indonesia dan negara berkembang lainnya dapat memainkan peranan yang penting dalam mengembangkan sikap dan keahliannya untuk meningkatkan manfaat sosial dari penggunaan web. Hal ini berarti juga mendidik masyarakat dalam bagaimana caranya menggunakan web tersebut untuk mencari informasi yang tepat dan relevan dalam bahasa yang dapat dipahami. Selanjutnya, Purbo (2002) memiliki argumentasi bahwa pergerakan golongan akar rumput (grassroots movements) mendorong pengembangan akses dan pemanfaatan internet di Indonesia.

Meskipun masih terdapat beberapa kendala sehingga pemanfaatan TIK menjadi sangat komplek dan sulit untuk diadopsi, TIK sebenarnya dapat menyediakan kesempatan yang lebih besar untuk mencapai suatu tingkatan tertentu yang lebih baik bagi petani. Hal ini ditunjukkan ketika beberapa lembaga penelitian dan pengembangan menyampaikan studi kasus yang mendeskripsikan bagaimana TIK telah dimanfaatkan oleh petani dan stakeholders usahawan pelaku bidang pertanian sehingga memperoleh peluang yang lebih besar untuk memajukan kegiatan usahataninya. Keberhasilan pemanfaatan TIK oleh petani di Indonesia dalam memajukan usahataninya ditunjukkan oleh beberapa kelompok tani yang telah memanfaatkan internet untuk akses informasi dan promosi hasil produksinya dengan menggunakan fasilitas yang disediakan Community Training and Learning Centre (CTLC) di Pancasari (Bali) dan Pabelan (Salatiga) yang dibentuk Microsoft bekerja sama dengan lembaga nonprofit di bawah Program Unlimited Potential.

Melalui akses informasi digital dari internet, petani mengenal teknologi budidaya paprika dalam rumah kaca. Sejak mengirimkan profil produksi di internet, permintaan terhadap produk pertanian yang diusahakan terus berdatangan. Promosi melalui internet dapat memutus hubungan petani dengan tengkulak yang sering memberikan harga jauh di bawah harga pasar (Sigit et al. 2006). Melalui Unit Pelayanan Informasi Pertanian tingkat Desa–Program Peningkatan Pendapatan Petani melalui inovasi (UPIPD-P4MI) yang dilaksanakan oleh Badan Litbang Pertanian, petani di sekitar lokasi UPIPK sudah memanfaatkan internet untuk akses informasi dan promosi hasil pertanian yang diusahakan (UPIPD Kelayu Selatan- P4MI 2009).

Manfaat yang dapat diperoleh melalui kegiatan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi (Mulyandari 2005), khususnya dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di antaranya adalah:
1. Mendorong terbentuknya jaringan informasi pertanian di tingkat lokal dan nasional.
2. Membuka akses petani terhadap informasi pertanian untuk: 1) Meningkatkan peluang potensi peningkatan pendapatan dan cara pencapaiannya; 2) Meningkatkan kemampuan petani dalam meningkatkan posisi tawarnya, serta 3) Meningkatkan kemampuan petani dalam melakukan diversifikasi usahatani dan merelasikan komoditas yang diusahakannya dengan input yang tersedia, jumlah produksi yang diperlukan dan kemampuan pasar menyerap output.
3. Mendorong terlaksananya kegiatan pengembangan, pengelolaan dan pemanfaatan informasi pertanian secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.
4. Memfasilitasi dokumentasi informasi pertanian di tingkat lokal (indigeneous knowledge) yang dapat diakses secara lebih luas untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.

Hambatan dalam Aplikasi TIK
Meskipun disadari TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan, namun sampai saat ini petani di dunia, khususnya di Indonesia masih belum dipertimbangkan dalam bisnis TIK dan lingkungan kebijakan. Fakta yang agak mengejutkan adalah bahwa aplikasi TIK memiliki kontribusi yang tidak terukur secara ekonomi bagi masing-masing GDPs.
Dalam waktu yang sama, pemanfaatan TIK dalam pembangunan pertanian berkelanjutan membutuhkan proses pendidikan dan peningkatan kapasitas karena masih terdapat kesenjangan secara teknis maupun keterampilan dalam bisnis secara elektronik (e-business).

Survei yang dilakukan oleh the International Society for Horticultural Sciences (ISHS) telah mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software. Partisipan dari negara-negara maju menekankan pada hambatan: tidak adanya manfaat ekonomi yang dapat dirasakan, tidak memahami nilai lebih dari TIK, tidak cukup memiliki waktu untuk menggunakan teknologi dan tidak mengetahui bagaimana mengambil manfaat dari penggunaan TIK. Responden dari negara-negara berkembang menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur teknologi.” Hasil kuesioner dari the Institute for Agricultural and Fisheries Research sejalan dengan survei ISHS dan survey dari the European Federation for Information Technology in Agriculture (EFITA) yang mengindikasikan adanya suatu pergeseran dari kecakapan secara teknis TIK sebagai suatu faktor pembatas menuju pada kesenjangan pemahaman bagaimana mengambil manfaat dari pilihan TIK yang bervariasi (Taragola et al. 2009).

TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam pertanian modern dan menjaga keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan. Namun demikian, untuk wilayah negara-negara berkembang masih banyak mengalami kendala dalam aplikasinya untuk mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan. Tantangan yang umum dihadapi adalah bahwa akses telepon dan jaringan elektronik di perdesaan dan wilayah terpencil (remote area) sangat terbatas; telecenter yang menawarkan layanan TIK masih langka karena biaya yang diperlukan akibat tingginya investasi dan biaya operasional yang dibutuhkan. Kekurangan pada tingkatan lokal dalam aplikasi TIK perlu dipikirkan dalam merancang strategi aplikasi TIK sesuai dengan kondisi di lapangan yang spesifik lokasi baik melalui kapasitas teknologi tradisional, seperti siaran radio. emerintah dan masyarakat perdesaan dapat bekerja bersama untuk melayani pengguna atas dasar profitabilitas di samping ada unsur sosial untuk mendukung keberlanjutan aplikasi TIK di tingkat perdesaan.

Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh the International Society for Horticultural Sciences (ISHS) hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software. Untuk responden dari negara-negara berkembang menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur teknologi (Taragola et al. 2009).

Beberapa hambatan dalam aplikasi TIK untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan yang berhasil diidentifikasi oleh Sumardjo et al. (2009) secara ringkas adalah sebagai berikut:
1. Belum adanya komitmen dari manajemen di level stakeholders managerial yang ditunjukkan dengan adanya kebijakan yang belum konsisten.
2. Kemampuan tingkat manajerial pimpinan di level stakeholders (khususnya di lingkup pemda dan dinas kabupaten) sebagian besar masih belum memiliki kapasitas di bidang teknologi informasi, sehingga banyak sekali proses pengolahan input yang seharusnya dapat difasilitasi dengan aplikasi teknologi informasi tidak diperhatikan dan bahkan cenderung dihindari penerapannya.
3. Sebagian besar level manajerial belum mengetahui secara persis konsep aplikasi teknologi informasi, sehingga berimplikasi pada rendahnya aplikasi teknologi informasi untuk mendukung operasionalisasi pelaksanaan tugas sehari-hari.
4. Infrastruktur penunjang tidak mendukung operasi pengelolaan dan penyebaran informasi pertanian yang berbasis teknologi informasi, seperti misalnya pasokan listrik yang masih kurang memadai, perlengkapan hardware tidak tersedia secara mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya, gedung atau ruangan yang tidak memadai, serta jaringan koneksi internet yang masih sangat terbatas (khususnya untuk wilayah remote area).
5. Biaya untuk operasional aplikasi teknologi informasi untuk akses dan pengelolaan informasi yang disediakan oleh pemerintah daerah khususnya sangat tidak memadai terutama untuk biaya langganan ISP untuk pengelolaan informasi yang berbasis internet.
6. Infrastruktur telekomunikasi yang belum memadai dan mahal. Kalaupun semua fasilitas ada, harganya masih relatif mahal.
7. Tempat akses informasi melalui aplikasi teknologi informasi sangat terbatas. Di beberapa tempat di luar negeri, pemerintah dan masyarakat bergotong-royong untuk menciptakan access point yang terjangkau, misalnya di perpustakaan umum (public library). Di Indonesia hal ini seharusnya dapat dilakukan di kantor pos, kantor pemerintahan dan tempat-tempat umum lainnya.
8. Sebagian usia produktif dan yang bekerja di lembaga subsistem jaringan informasi inovasi pertanian tidak berbasis teknologi informasi, sehingga semua pekerjaan jalan seperti biasanya dan tidak pernah memikirkan efisiensi atau pemanfaatan teknologi informasi yang konsisten.
9. Dunia teknologi informasi terlalu cepat berubah dan berkembang, sementara sebagian besar sumber daya manusia yang ada di lembaga subsistem jaringan informasi inoasi pertanian cenderung kurang memiliki motivasi untuk terus belajar mengejar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga seringkali kapasitas SDM yang ada tidak dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan cenderung menjadi lambat dalam menyelesaikan tugas.
10. Kemampuan kapasitas SDM dalam aplikasi teknologi informasi dan komunikasi, khususnya di level penyuluh pertanian ataupun fasilitator tingkat desa sebagai motor pendamping pelaksana pembangunan pertanian di daerah masih sangat terbatas.
11. Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan petani atau pengguna akhir dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam akses informasi inovasi pertanian dan mempromosikan produknya ke pasar yang lebih luas.
12. Dari segi sosial budaya, kultur berbagi masih belum membudaya. Kultur berbagi (sharing) informasi dan pengetahuan untuk mempermudah akses dan pengelolaan informasi belum banyak diterapkan oleh anggota lembaga stakeholders. Di samping itu, kultur mendokumentasikan informasi/data juga belum lazim, khususnya untuk kelembagaan yang berada di daerah.

Rekomendasi Aplikasi TIK dalam Mendukung  Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
Studi yang telah dilakukan oleh ENRAP di Asia Pasifik (termasuk di Indonesia) menemukan bahwa kesuksesan (efektivitas) intervensi aplikasi TIK utamanya tergantung pada dampaknya terhadap mata pencaharian dan aset mata pencaharian. Keberlanjutan (sustainability) suatu intervensi aplikasi TIK memiliki mempunyai dua aspek penting, yaitu: kemampuan dalam melanjutkannya dalam jangka panjang dan kemampuannya untuk mengurangi sifat mudah terlukanya (vulnerabilities) dari target beneficiaries.

Adapun kesadaran dan komitmen stakeholders, ketepatan relevansi isi, penggunaan bahasa lokal dan upaya penyediaan akses terhadap intervensi TIK adalah faktor kritis lain yang penting bagi keefektivan dan kesuksesan dari suatu intervensi aplikasi ICT yang ditargetkan bagi kehidupan masyarakat perdesaan. Intervensi yang bersifat demand-driven dalam fungsinya seperti halnya teknologi tepat guna (sesuai dengan yang dipilih atau diinginkan pengguna) mempunyai prevalensi kesuksesan yang lebih tinggi (ENRAP 2009).

Perkembangan TIK seperti komputer dan teknologi komunikasi, khususnya internet dapat digunakan untuk menjembatani informasi dan pengetahuan yang tersebar di antara yang menguasai informasi dan yang tidak. Akses terhadap komunikasi digital membantu meningkatkan akses terhadap peluang pendidikan, meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan pemerintah, memperbesar partisipasi secara langsung dari ”used-to-be-silent-public” (masyarakat yang tidak mampu berpendapat) dalam proses demokrasi, meningkatkan peluang perdagangan dan pemasaran, memperbesar pemberdayaan masyarakat dengan memberikan suara kepada kelompok yang semula tidak bersuara (perempuan) dan kelompok yang mudah diserang, menciptakan jaringan dan peluang pendapatan untuk wanita, akses terhadap informasi pengobatan untuk masyarakat yang terisolasi dan meningkatkan peluang tenaga kerja (Servaes 2007).

Salah satu yang direkomendasikan untuk implementasi TIK dalam pemberdayaan di negara berkembang adalah sebuah telecenter atau pusat multimedia komunitas yang terdiri atas desktop untuk penerbitan, surat kabar komunitas, penjualan atau penyewaan alat multimedia, peminjaman buku, fotokopi, dan layanan telepon/faks. Apabila memungkinkan dapat pula dilengkapi dengan akses internet dan penggunaan telepon genggam untuk meningkatkan akses pengusaha dan petani di perdesaan akses informasi untuk meningkatkan kesejahterannya. TIK merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk knowledge sharing, namun seringkali belum dapat memecahkan permasalahan pembangunan yang disebabkan oleh isu sosial, ekonomi dan politik. Informasi pun seringkali belum dapat digunakan sebagai pengetahuan karena belum mampu diterjemahkan langsung oleh masyarakat (Servaes 2007).

Leeuwis (2004) menyatakan bahwa pesan dan teknologi (inovasi) pertanian yang dipromosikan oleh agen penyuluhan sering tidak sesuai dan tidak mencukupi. Hal ini memberikan implikasi bahwa informasi yang ditujukan pada petani dan agen penyuluh sangat terbatas karena beberapa faktor, di antaranya adalah: staf universitas dari disiplin yang berbeda, peneliti yang terlibat, politisi, pengambil kebijakan, agroindustri dan birokrat yang memainkan peranan dalam proses promosi inovasi pertanian tersebut. Konsekuensinya, inovasi yang terpadu hanya dapat diharapkan muncul ketika berbagai aktor (termasuk petani), yang dapat mempengaruhi kecukupan pengetahuan dan teknologi, bekerjasama untuk memperbaiki kinerja kolektif. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki fungsi dari sistem pengetahuan dan informasi pertanian (Agricultural Knowledge and Information System–AKIS).

Sistem pengetahuan dan informasi pertanian dapat berperan dalam membantu petani dengan melibatkannya secara langsung dengan sejumlah besar kesempatan, sehingga mampu memilih kesempatan yang sesuai dengan situasi dan kondisi faktual di lapangan. Peningkatan efektivitas jejaring pertukaran informasi antarpelaku agribisnis terkait merupakan aspek penting untuk mewujudkan sistem pengetahuan dan informasi pertanian. Dengan dukungan implementasi TIK serta peran aktif berbagai kelembagaan terkait upaya untuk mewujudkan jaringan informasi inovasi bidang pertanian sampai di tingkat petani dapat diwujudkan. Keberhasilan proses knowledge sharing inovasi pertanian sangat bergantung pada peran aktif dari berbagai institusi terkait yang memiliki fungsi menghasilkan inovasi pertanian maupun yang memiliki fungsi untuk mengkomunikasikan inovasi pertanian.

Rekomendasi aplikasi TIK dalam mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan adalah aplikasi TIK yang mendorong terjadinya knowledge sharing untuk meningkatkan fungsi sistem pengetahuan dan informasi pertanian. Dengan demikian, aplikasi TIK tersebut dapat berperan dalam membantu petani dengan melibatkannya secara langsung dengan sejumlah besar kesempatan, sehingga mampu memilih kesempatan yang sesuai dengan situasi dan kondisi faktual di lapangan. Peningkatan efektivitas jejaring pertukaran informasi antarpelaku agribisnis terkait merupakan aspek penting untuk mewujudkan sistem pengetahuan dan informasi pertanian. Dengan dukungan TIK serta peran aktif berbagai kelembagaan pengetahuan terkait pertanian dan kelembagaan-kelembagaan pendukung lainnya yang berpotensi untuk bersinergi, upaya untuk mewujudkan jaringan informasi bidang pertanian sampai di tingkat kelompok petani dapat diwujudkan. Keberhasilan proses knowledge sharing inovasi pertanian sangat bergantung pada peran aktif dari berbagai institusi terkait yang memiliki fungsi menghasilkan inovasi pertanian maupun yang memiliki fungsi untuk memproses dan mengkomunikasikan inovasi pertanian berkelanjutan, khususnya penyuluh pertanian dan petani.

Berdasarkan permasalahan yang masih banyak dihadapi dalam implementasi TIK untuk mendukung pembangunan pertanian, maka aplikasi TIK dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi kesiapan sumber daya yang ada di daerah. Aplikasi TIK diarahkan untuk mendukung percepatan akses pelaku pembangunan pertanian terhadap sumber informasi yang dibutuhkan sekaligus merupakan sarana untuk mempercepat proses pertukaran informasi antarpihak-pihak terkait dalam proses pembangunan pertanian berkelanjutan.

Mengingat keterbatasan sumber daya dan pengetahuan pelaku pembangunan pertanian di level grass root, maka aplikasi TIK perlu dimodifikasikan dengan media konvensional. Berbagai sarana telekomunikasi dan media komunikasi dapat difungsikan untuk mempercepat proses berbagi pengetahuan di setiap level pelaku pembangunan pertanian. Aplikasi TIK dapat diterapkan sampai di level kecamatan dalam bentuk pusat-pusat informasi pertanian untuk mempercepat proses berbagi pengetahuan antara pelaku pembangunan pertanian sampai di tingkat kecamatan dengan pelaku pembangunan pertanian di tingkat regional, nasional, bahkan global. Selanjutnya informasi yang diperoleh malalui aplikasi teknologi informasi, misalnya internet dapat disederhanakan dan dikemas kembali sesuai kebutuhan dan karakteristik pengguna akhir oleh penyuluh pertanian atau fasilitator baik formal maupun nonformal. Informasi yang sudah diolah dan dikemas kembali dalam format yang sesuai dengan karakteristik pengguna dapat disebarkan lebih lanjut melalui berbagai media komunikasi yang tersedia di tingkat pelaku pembangunan pertanian sampai di tingkat petani. Sebaliknya, informasi yang berasal dari pelaku pembangunan pertanian yang berada di grass root juga dapat didokumentasikan sebagai indigenous knowledge yang dapat dijadikan sebagai bahan pengambil kebijakan maupun pengembangan pengetahuan lebih lanjut.

Komunikasi banyak langkah masih relevan untuk diterapkan dalam mendukung percepatan proses berbagi pengetahuan di antara pelaku pembangunan pertanian sehingga pembangunan pertanian dapat berlangsung secara berkelanjutan. Secara ringkas mekanisme aplikasi TIK yang dimodifikasikan dengan komunikasi banyak langkah untuk mempercepat proses berbagi pengetahuan di setiap level pelaku pembangunan pertanian (dimodifikasi dari Mulyandari 2005). Dalam strategi rancangan aplikasi TIK dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan, terdapat tiga tahapan utama dengan asumsi di tingkat kecamatan dibangun pusat informasi pertanian di tingkat kabupaten dapat operasional secara optimal.
Internet memberi informasi kepada para petani dalam pemeliharaan tanaman dan hewan, pemberian pupuk, irigasi, ramalan cuaca dan harga pasaran. Manfaat internet menguntungkan para petani dalam hal kegiatan advokasi dan kooperasi.
Internet juga bermanfaat untuk mengkoordinasikan penanaman agar selalu ada persediaan di pasar, lebih teratur dan harga jual normal. Jika para petani memerlukan informasi khusus yang tidak dapat segera dilayani para petugas penyuluhan pertanian, maka mereka bisa mendapatkan informasi tersebut dari internet.
Dengan lancarnya arus informasi, keterlambatan dan miskomunikasi mengenai penanaman, pemupukan, penyemprotan, pemanenan, pengeringan, dan penjualan hampir tidak terjadi lagi. Koperasi dapat mengetahui kebutuhan mingguan para petani secara akurat dan menjadwalkannya dengan baik, musim panen dapat dirotasi, harga lebih stabil, sementara koperasi dapat menjadi pengumpul dan pemasar hasil produksi langsung kepada konsumen akhir. Peran tengkulak dan pengijon secara bertahap dieliminasi.
Harapannya TIK ini dapat digunakan oleh sebanyak mungkin petani Indonesia atau bahkan para petani di dunia agar produktivitas padi mereka meningkat, dan dijadikan sebagai alat pengembangan pertanian, demikian pula untuk kesejahteraan hidupnya.
Berikut kesimpulan yang dapat ditarik:
Pembangunan pertanian dan perdesaan yang berkelanjutan merupakan isu penting strategis yang universal diperbincangkan dewasa ini. Dalam menghadapi era globalisasi pembangunan pertanian berkelanjutan tidak terlepas dari pengaruh pesatnya perkembangan iptek termasuk perkembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Integrasi yang efektif antara TIK dalam sektor pertanian akan menuju pada pertanian berkelanjutan melalui penyiapan informai pertanian yang tepat waktu relevan, yang dapat memberikan informasi yang tepat kepada petani dalam proses pengambilan keputusan berusahatani untuk meningkatkan produktivitasnya. TIK dapat memperbaiki aksesibilitas petani dengan cepat terhadap informasi pasar, input produksi, tren konsumen, yang secara positif berdampak pada kualitas dan kuantitas produksi mereka. Informasi pemasaran, praktek pengelolaan ternak dan tanaman yang baru, penyakit dan hama tanaman/ternak, ketersediaan transportasi, informasi peluang pasar dan harga pasar input maupun output pertanian sangat penting untuk efisiensi produksi secara ekonomi.
Beberapa hambatan dalam aplikasi TIK untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di antaranya adalah: belum adanya komitmen dari manajemen di level stakeholders managerial, SDM tingkat manajerial pimpinan di level stakeholders sebagian besar masih belum memiliki kapasitas di bidang teknologi informasi, infrastruktur penunjang tidak mendukung operasi pengelolaan dan penyebaran informasi pertanian yang berbasis teknologi informasi, biaya untuk operasional aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension yang disediakan oleh pemerintah daerah khususnya sangat tidak memadai terutama untuk biaya langganan ISP untuk pengelolaan informasi yang berbasis internet, tempat akses informasi melalui aplikasi teknologi informasi sangat terbatas, dan dari segi sosial budaya, kultur berbagi masih belum membudaya.

Mengingat keterbatasan sumber daya dan pengetahuan pelaku pembangunan pertanian di level grass root, maka aplikasi TIK perlu dimodifikasikan dengan media konvensional. Berbagai sarana telekomunikasi dan media komunikasi dapat difungsikan untuk mempercepat proses berbagi pengetahuan di setiap level pelaku pembangunan pertanian. Komunikasi banyak langkah masih relevan untuk diterapkan dalam mendukung percepatan proses berbagi pengetahuan di antara pelaku pembangunan pertanian sehingga pembangunan pertanian dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Bidang Pangan
Selain dimanfaaatkan dalam bidang pertanian, teknologi informasi juga dimanfaatkan dalam bidang pangan. Salah satu pemanfaatannya yaitu pembuatan paket informasi berupa audio-visual dan CD interaktif  yang bertemakan pangan yang diintegrasikan ke dalam sebuah situs/website agar masyarakat luas dapat mengakses dan mengambil manfaat dari informasi yang disampaikan. CD interaktif yang mengangkat tema pangan ini misalnya saja membahas pangan olahan yang dapat dibuat dengan menggunakan jagung dan nanas. Pengembangan paket informasi website dilakukan dengan menggunakan open source, dimana paket informasi audiovisual dan CD interaktif yang diintegrasikan kedalam website diubah formatnya terlebih dahulu agar sesuai dengan standar dan untuk kemudahan/kelancaran akses.

Paket informasi yang dikembangkan mudah untuk digunakan serta memiliki nilai manfaat serta banyak orang yang menyukai paket informasi ini. Paket informasi yang diintegrasikan tersebut diharapkan dapat menjadi sumber acuan informasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui segala hal tentang pangan olahan melalui pemanfaatan teknologi informasi dan multimedia. Dengan kata lain, pemasangan iklan di internet pada situs-situs tertentu akan mempermudah kegiatan promosi dan pemasaran suatu produk. Diharapkan pula paket informasi yang dikembangkan ini dapat menambah dan melengkapi koleksi informasi mengenai pangan dalam rangka usaha untuk memperbaiki kualitas pangan di Indonesia.

sumber: